Hak Istri, Kewajiban Suami

Published September 25, 2009 by deendatirtana

HAK ISTRI, KEWAJIBAN SUAMI
Dalam Islam memberi nafkah kepada istri dan anak dimasukkan dalam
kategori ibadah. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasulullah SAW telah
bersabda kepadanya, “Engkau tiada memberi belanja demi mencari ridha
Allah, melainkan pasti diberi pahala, sekalipun yang engkau suapkan ke
dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari Muslim)

Bahkan nilai menghidupi anak dan istri itu lebih utama dari pada
menyumbangkan harta demi perjuangan Islam sekalipun, sementara anak dan
istri kelaparan. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Satu dinar yang
engkau belanjakan untuk perang di jalan Allah dan satu dinar yang engkau
belanjakan untuk istrimu, yang paling besar pahalanya ialah apa yang
engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari Muslim)

Istri berhak untuk mendapatkan belanja sewajarnya, tergantung seberapa
besar kemampuan suami. Contohnya soal pangan dan pakaian. Kalau suami
punya jatah makanan daging dan keju misalnya, maka istri berhak pula
untuk mendapatkan makanan sekualitas itu. Sebaliknya bila sang suami
cuma mampu membeli nasi dan ikan asin, istri pun tak boleh menuntut
untuk bisa makan ayam.

Begitu pula dalam hal memberi pakaian, harus yang sekualitas. Bukan
karena alasan suami sering keluar rumah, lantas dibelinya jas kemeja
yang mahal-mahal sementara istrinya di rumah dibelikan daster butut.

Abu Sufyan adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang cukup berada.
Sayangnya, ia tergolong pelit. Saking pelitnya, ia terlalu sedikit
memberikan nafkah belanja kepada istrinya. Sang istri pun nekad, mencuri
dari saku suaminya.

Dari Aisyah diceritakan, Hindun, istri Abu Sufyan berkata kepada Nabi,
“Sungguh Abu Sufyan adalah orang yang kikir. Ia tidak memberiku belanja
yang mencukupi bagi diriku dan anaknya, sehingga aku terpaksa mengambil
hartanya tanpa sepengetahuannya.” Nabi pun menanggapi, “Ambillah
sebanyak yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan wajar.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

Tetapi sekali lagi, tetap disesuaikan dengan kemampuan suami. Istri yang
baik tak akan merengek-rengek meminta sesuatu yang tak kuat dibeli oleh
suaminya. Allah menerangkan dalam surah Ath-Thalaaq ayat 7 : “Hendaklah
orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang
disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan
Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan
(sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan.”

SEDEKAH ISTRI. Lalu bagaimana dengan istri yang bekerja dan dari
pekerjaannya itu ia bisa menopang biaya hidupnya? Apakah suami tetap
berkewajiban memberi nafkah?

Istri meminta atau tidak, memberi nafkah tetap menjadi tanggung jawab
seorang suami. Apakah kalau istri tidak minta lantas suami cuma
ongkang-ongkang? Enak betul kalau begitu.

Kendati istrinya berharta sekalipun, atau bergaji yang lumayana besar,
tanggungjawab suami tidak gugur begitu saja. Ia wajib untuk tetap
bekerja sekuat tenaga, walau dengan hasil minim, demi memenuhi tugas
berat ini. Alangkah malunya bila sang istri sibuk dengan kerjanya di
kantor sementara suaminya berleha-leha.

Dalam Islam, wanita benar-benar mendapatkan kedudukan sepantasnya yang
amat terhormat. Perkawinan tidak mengubah kedudukannya menjadi budak
suami. Ia tetap mempunyai hak-hak pribadi yang tak boleh diganggu walau
oleh suami. Misalkan dalam hal harta kekayaan.

Istri yang berasal dari keluarga kaya, bisa jadi mendapat pesangon yang
cukup besar dari keluarganya saat akan menikah. Atau didapatnya harta
waris yang banyak dari orang tuanya yang meninggal dunia. Maka, Islam
mengakui bahwa ia berhak memiliki sendiri hartanya tersebut. Demikian
pula aturannya bila istri bekerja dan mendapat penghasilan atas kerjanya
itu, maka akan dimasukkan dalam harta pribadinya.

Harta gono-gini (istilah Jawa), yaitu harta milik bersama suami istri
yang didapat dari hasil gaji keduanya selama setelah pernikahan, tak ada
dalam Islam. Bila istri berpenghasilan, maka bukan lantas milik bersama,
tetapi tetap jadi haknya pribadi. Mengenai kerelaan istri untuk
memberikan hartanya kepada suami, itu masalah lain, dan dinilai sebagai
sedekah.

Adalah sepasang suami istri, Zainab dan Abdullah bin Mas’ud. Sang suami
tergolong orang fakir, sementara istrinya memiliki harta pribadi yang
lumayan, yang ingin ia sedekahkan. Maka ia pun mendatangi Rasulullah
ditemani seorang wanita yang punya kepentingan sama. Ketika di depan
rumah beliau mereka bertemu Bilal, berkata Zainab, “Katakanlah kepada
beliau bahwa ada dua orang perempuan yang akan bertanya apakah cukup
kalau harta mereka diberikan kepada suami mereka dan kepada anak yatim
di rumah-rumah mereka? Tolong jangan kau katakan siapa kami.”

Bilal pun masuk dan menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Lebih
dahulu beliau bertanya siapakah wanita itu. Bilal pun berkata, “Seorang
wanita Anshar dan Zainab.”

Zainab yang mana?

“Istri Abdullah bin Mas’ud.”

“Mereka berdua akan mendapatkan dua pahala. satu pahala ibadah dan satu
pahala sedekah,” (HR. Bukhari & Muslim)

Apabila suatu waktu terjadi perceraian, maka harta pribadi istri tetap
menjadi haknya. Kalaupun ada harta gono-gini, maka aturan pembagiannya
fifty-fifty yang lazim digunakan orang adalah salah. Menurut Islam,
harta istri tetap miliknya, tak ada hak suami atasnya.

bagi para wanita, ada kehormatan tinggi tersendiri. Tidak ada kewajiban
bagi mereka untuk mencari nafkah. Bukannya menggambarkan wanita sebagai
orang yang lemah dan tukang membebani laki-laki, tapi ini adalah
penghormatan Islam kepada wanita seubungan dengan tugas mereka yang amat
vital di dalam rumah keluarganya.

Seorang ayah wajib membiayai hidup anak-anak perempuannya sampai ia
menikah. Bila ayah tidak mempunyai kesanggupan, tanggung jawab ini
beralih ke pundak saudara laki-laki.

Rasulullah berkata, “Barangsiapa menanggung belanja tiga anak putri atau
tiga saudara perempuan, maka pastilah ia memperoleh surga.” (HR.
Thahawi)

Bukan berarti bila saudara perempuan cuma satu lantas gugur kewajiban
untuk menanggungnya. Hanya saja, belum dijamin surga. Bila ada tiga
perempuan yang jadi tanggungannya, barulah surga bisa dijadikan jaminan.
Kalau surga sudah dijanjikan sebagai balasan, dapat dipastikan bahwa ini
adalah sebuah tugas berat.

Pada saat sang wanita menikah, tanggung jawab penghidupannya ada di
tangan suami. Tetapi jika jadi janda, ia kembali menjadi tanggung jawab
ayah dan saudara laki-lakinya. Dan bila tak ada seorang pun yang bisa
menanggungnya, maka negara lah yang wajib memikirkannya.

Sedangkan kepada anak laki-laki, kewajiban orang tua menafkahi sampai
mereka dewasa dan dianggap mampu mencari penghasilan sendiri. Seorang
anak laki-laki yang sudah mencapai umur produktif, hendaknya jangan
terus menggantungkan diri kepada orang tua. Belum lulus kuliah, bukanlah
satu alasan yang tepat untuk mengangggur. Harus diupayakan kuliah sambil
bekerja, seberat apapun pekerjaan itu.

Anjuran Islam ini, ternyata diterapkan di negara-negara Eropa dan
Jepang. Anak laki-laki di sana merasa malu kalau masih hidup satu rumah
dengan keluarganya. Biasanya mereka akan memisahkan diri dengan menyewa
flat sederhana. Di sanalah ia belajar bekerja menghidupi diri sendiri
sambil menjalani kuliah. Ada yang cuma jadi tukang cuci piring, tukang
sapu atau penjual minuman, tetapi mereka bangga dengan hasil keringat
sendiri. Hanya sayangnya, kesendirian mereka itu memberikan kesempatan
untuk berbebas-bebas semaunya.

Seorang datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Pekerjaan macam mana
yang baik ya Rasulullah?” jawab beliau, “Seorang yang bekerja dengan
tangannya sendiri.” (HR. Bazzar)

laki-laki dewasa yang tidak mau bekerja itu tercela dalam Islam. Mereka
yang masih membebani orang tua, sama halnya merampas hak bagi
adik-adiknya yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: